Rasa Sakit Ketika Ruh Dicabut

Kematian itu sangat menyakitkan, apalagi bagi orang yang tidak beriman. Orang seperti Rasul saja merasakan sakit saat nyawanya dicabut oleh malaikat izrail. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini!” ujar Rasul penuh lirih kepada Jibril yang ada di sampingnya.
Melihat nyawa ayahnya dicabut, mata fatimah terpejam. Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat Jibril. “Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku,”. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
Uushikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum” (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu)
Di luar pintu, tangis mulai terdengar, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajah dengan tangannya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummati, ummati, ummati!?”(ummatku, ummatku, ummatku!). Dan pergilah Rasulullah ke haribaan Allah SWT.
Demikian rasa sakit saat nyawa kita di cabut. Jika Rasul saja merasakan sakit yang dahsyat saat sakaratul maut, apalagi kita sebagai manusia biasa. Subhanallah !
Disebutkan dalam suatu riwayat, saat ajal seorang mukmin sudah dekat, ada empat Malaikat Izrail yang menghampirinya. Satu malaikat mencabut nyawa dari telapak kaki kanannya, satu Malaikat mencabut nyawa dari telapak kaki kirinya, satu Malaikat mencabut nyawa dari tangan kanan dan satu Malaikat mencabut nyawa dari telapak tangan kirinya.
Mari kita ingat kembali kisah sakaratul maut Nabi Idris. Nabi Idris adalah seorang Nabi yang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan rakaat dalam sehari semalam dan selalu berzikir kepada Allah SWT. Catatan amal kebaikan Nabi Idris sangat banyak, setiap malam naik ke langit.
Singkat cerita saat Malaikat Izrail bertamu ke rumah Nabi Idris, beliau terkejut dan meminta agar Malaikat Izrail mencabut nyawanya dan mnghidupkannya kembali supaya dia bisa merasakan kematian dan bertambah rasa takutnya kepada Allah.
Dengan izin Allah, Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris dengan cara yang sangat lembut. Setelah Nabi Idris wafat, Malaikat meminta kepada Allah agar menghidupkannya kembali.
Setelah Nabi Idris hidup kembali, Malaikat bertanya “Bagaimanakah rasa mati itu sahabatku?” tanya Malaikat Izrail.
“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti.” Jawab Nabi Idris.
Caraku yang lembut itu baru kulakukan terhadapmu.” Kata Malaikat Izrail.
Jika rasa sakit dahsyat yang dialami Nabi Idris tersebut merupakan cara terlembut Malaikat Izrail dalam mencabut nyawa, bagaimana dengan kita? Subhanallah.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top