Rumah Hantu


Sore itu, aku bersama teman-temanku baru pulang dari ekskul. Sekolah kami memang setiap hari minggu mengadakan ekskul sampai sore. Kami berlima sama-sama ikut ekskul passus yang melelahkan, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore kami latihan baris-berbaris, sedangkan waktu istirahat hanya pukul 12 sampai pukul 1. Hufh, memang melelahkan tetapi kami semua senang, karena latihan keras kami ini dikarenakan sebentar lagi akan memperingati hari besar Indonesia, hari Kemerdekaan.
Pulang ekskul kali ini kami lebih memilih untuk jalan kaki daripada naik motor, Karena kami ingin menikmati suasana sore yang indah. Rumah kami memang berdekatan, sejak kecil kami memang sudah berteman. Bahkan dari TK sampai SMA kami selalu bersama. Sungguh persahabatan yang mengasyikkan.
Kami berlima lahir di bulan yang sama, bulan April. Aneh bukan? Sebelum aku menceritakan tentang teman-temanku, pertama aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Ian, lahir di Pekanbaru tanggal 14 April. Ciri-ciriku putih, tinggi, berambut lurus. Temanku yang sama tinggi denganku bernama Dion, ia lahir tanggal 16 April. Lalu rere dan rika, dua cewe ini sama-sama lahir pada tanggal 6 April, padahal mereka bukan saudara kandung. Kemudian yang terakhir bernama Oki, dia paling kecil diantara kami berlima. Oki lahir pada tanggal 28 April, tubuhnya tidak terlalu tinggi.
Karena kami berlima mempunyai kesamaan, kami pun berinisiatif untuk membuat suatu kelompok atau genk. Namun genk kami bukan genk berandal, melainkan suatu genk yang dibentuk berdasarkan kebersamaan dan rasa pertemanan yang indah.
Nama genk kami adalah “Up Real Community” (dibaca: april komuniti), dibentuk pada tanggal 1 April. Genk ini kami bentuk pada saat kami masih kelas 4 SD dan masih bertahan hingga sekarang. Kini kami telah menginjak masa remaja. Kami berlima sekolah di SMA Merah Putih, salah satu SMA favorit di Pekanbaru.
Akhirnya kami pun tiba di rumah masing-masing. Rumahku di depan rumah Rere, disamping kanan rumah ku adalah rumah Dion dan disamping kiri rumahku adalah rumah Rika. Sedangkan rumah Oki berada disamping rumah Rere. (Hehehe, ribet ya?)
“Drrr-drrr-drrr”, hp ku bergetar. Ternyata sms dari Rere. “Kepada seluruh anggota Up Real, nanti malam jam 07.00 ngumpul dirumahku, OK?”,begitulah isi smsnya. Setelah selesai makan malam dan shalat maghrib, aku pun meminta izin kepada ortu mau ke rumah Rere.
Lalu setelah kami berlima sudah berkumpul, Rere pun mulai angkat bicara. “Begini, kemarin pulang skul, aku ngeliat rumah kosong yang ga keurus di dekat lapangan.!”, begitu katanya. “Trus?”, Rika pun tidak sabar ingin mengetahui kelanjutannya. “Trus, menurut cerita yang aku dengar, rumah itu sekarang di huni oleh makhluk halus alias hantu, karena dulu di rumah itu ada kejadian menyeramkan!”, kata Rere penuh penghayatan.
“Menyeramkan apanya?”, kataku menyela. “Menurut kabar angin, dulu seorang anak kuliahan tinggal di rumah itu, anak itu bernama Rio, ia mati gantung diri di rumah itu,”kata Rere. “Trus apa hubungannya dengan kita?”, tanya Oki. “Ya iya lah ada hubungannya, kita harus pecahkan misteri itu dan menguak kebohongan dari cerita itu,” kata Rere. Aku pun mengangguk-angguk setuju. Sedangkan Oki dan Rika yang penakut tampak diam saja. Lalu Dion yang sejak tadi diam saja mulai angkat bicara, “Apa kalian yakin?” kata Dion. Kami berempat mengangguk pasti sambil memandang kearahnya.
Setelah persiapan sudah selesai, kami pun berangkat ke rumah itu hanya dengan jalan kaki. “Kira-kira kita pulang jam berapa?”, tanya Rere. “Paling-paling jam 9 kita udah pulang”,jawabku. Kami berangkat dengan perasaan yang takut, ragu-ragu, tapi penasaran. Setibanya di dekat lapangan, kami pun berunding sekali lagi. “Kita harus kuatin iman, karna kan kita ga tau apa nanti yang terjadi”,kataku. “Betul, kalo gitu sekarang kita berdoa dulu”,kata Rere. Suasana yang memang sunyi menjadi semakin sunyi dan tambah mencekam.
Rumah itu berada di belakang lapangan. Jarang sekali masyarakat menggunakan lapangan ini untuk sarana olahraga, karena konon kabarnya lapangan itu bekas tempat pemakaman.
“Oke, semua sudah beres, kalo gitu supaya lebih aman mending dua orang jaga di lapangan sedangkan tiga orang masuk kedalam,”kataku. Tanpa dikomando pun Rika dan Oki langsung berpandangan. Ya, aku mengerti pandangan mereka. “Baik, kalo gitu aku, rere, dan dion masuk kedalam, sedangkan rika dan oki nunggu dilapangan,”kataku. Mereka pun mengangguk setuju. “Kalo ada apa-apa, contact kami lewat walkie-talky, OK?”kata Dion. “OK!!”jawab rika dan oki serempak.
Kami bertiga pun berjalan pelan menuju rumah itu. Suasana mencekam, langit pun mulai mendung. Setibanya di depan pintu, kami menoleh ke ujung lapangan tempat Rika dan Oki menunggu. Tampak mereka berdua sedang duduk di bawah pohon mangga.
Aku lalu mengambil senter yang telah disiapkan Rere.
Kami pun membuka pintu secara perlahan. Bunyi derit pintu tua itu bagaikan tangisan seseorang yang memilukan. Mendengar bunyi itu bulu kuduk kami berdiri. Tampak samar-samar ruangan itu berantakan. Tak terurus. Aku pun menyinari ruangan itu dengan senter. Disitu tampak sofa yang sudah usang, meja yang rusak, sarang laba-laba dimana-dimana, dan tampak di lantai itu ada percikan air yang berwarna merah. Aku kaget, aku sinari lantai itu. Lalu aku colek percikan air itu. Aku yakin itu darah, karena bau amis yang pekat.
Aku ingin memberi tahu Rere dan Dion masalah darah itu. Tapi aku urungkan niat itu. Rere dan Dion tampak tegang sekali. Dion terlihat memeriksa di sekitar sofa. Sedangkan Rere, cewe pemberani itu dengan waspada masuk ke ruangan lain yang tampak seperti ruang nonton.
Tiba-tiba walkie-talky di dalam kantongku berbunyi. “zzzzzz, rere, ian, dion…………zzzzzzz !!!”. Terdengar jelas itu adalah suara Rika. Kami pun kaget mendengar suara itu. Rere dan Dion pun bergegas menuju kearahku. “Kenapa mereka?”tanya Dion dan Rere serempak. Aku pun menaikkan bahu mengisyaratkan bahwa aku tidak tahu.
Sesaat kemudian terdengar suara rintihan panjang yang memilukan terdengar dari ruangan di dekat ruang nonton tadi. Kami bertiga menoleh keruangan itu. Bau amis di ruangan itu semakin pekat, suasana kematian menyelimuti seluruh ruangan itu. Petir yang kuat mengagetkan kami. Bersamaan dengan itu perlahan pintu tempat suara rintihan itu berasal mulai terbuka dengan sendirinya. Dadaku terasa sesak mencium bau amis yang semakin kuat. Rere pun tampak mual mencium bau itu. Bau amis itu seperti bau kematian yang dipenuhi rasa benci, dendam, penyesalan, kesedihan dan ketakutan.
Pintu itu semakin terbuka lebar, Dion pun menutup hidungnya, mukanya tampak pucat. Rere yang sejak tadi berada di depanku mulai mundur dan berlindung dibelakangku. Aku sudah tidak kuat lagi. Kemudian aku memegang tangan Rere dan Dion. Terasa tangan mereka dingin. Lalu aku menarik mereka sekuat tenaga untuk keluar dari rumah itu.
Setibanya diluar rumah itu Rere pun muntah. Aku mengambil air di tasku lalu memberikannya kepada Rere. “Thanks”,kata rere. Aku pun mengangguk. “Ian, mereka berdua sudah tidak ada,”kata Dion sambil menunjuk pohon mangga di ujung lapangan tempat Rika dan Oki menunggu kami.
Aku langsung mengambil walkie-talky dan mencoba meng-contact mereka. Namun sayang, walky-talky ku mati. Padahal baterai nya baru saja dibeli. “Kemana mereka berdua?”tanya ku dalam hati.

bersambung . . .

1 komentar:

 
Top